Sekolah Pemuda Pembela HAM Kelas II KontraS Sumut: Wadah Kaderisasi di Tengah Suramnya Masa Depan HAM

Medan – Di tengah situasi sosial politik yang kian mengkhawatirkan bagi masa depan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara kembali menggelar kegiatan Sekolah Pemuda Pembela HAM kelas ke-2. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai 29 September hingga 3 Oktober 2025, bertempat di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Kegiatan ini menjadi kelanjutan dari pelatihan serupa yang telah sukses diselenggarakan pada tahun sebelumnya. Tujuannya tetap konsisten, membangun ruang pembelajaran kritis bagi para pemuda agar memiliki kesadaran, kemampuan analisis, dan keberanian untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah semakin sempitnya ruang demokrasi dan kebebasan sipil.

Berdasarkan data KontraS Sumut dan Komnas HAM, berbagai bentuk pelanggaran terus terjadi  mulai dari kekerasan yang dilakukan aparat terhadap masyarakat, perampasan hak atas tanah, hingga pembatasan ruang kebebasan berekspresi dan berkumpul. Situasi ini menjadi dorongan utama bagi KontraS Sumut untuk menciptakan ruang belajar kritis bagi kaum muda.

“Sekolah Pemuda Pembela HAM ini merupakan wadah kaderisasi dan konsolidasi bagi generasi muda untuk memahami, mengkritisi, serta memperjuangkan isu-isu terkait hak asasi manusia,” ujar Armalia, Pelaksana Tugas Koordinator KontraS Sumut dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan.

Armalia menegaskan, pelatihan ini didesain bukan sekadar untuk menambah pengetahuan teoretis, melainkan juga menumbuhkan keberanian dan kepekaan sosial para peserta terhadap isu-isu ketidakadilan di sekitar mereka.

“Pemuda adalah garda depan perubahan. Mereka punya energi dan idealisme yang harus diarahkan pada perjuangan kemanusiaan. Sekolah ini menjadi ruang belajar bersama agar mereka siap terlibat aktif dalam membela HAM,” tambahnya.

Sebanyak 15 peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis muda, serta perwakilan komunitas dari berbagai daerah di Sumatera Utara terlibat dalam kegiatan ini. Mereka mengikuti sejumlah sesi yang mengusung metode pendidikan orang dewasa (andragogi), di mana setiap materi disampaikan secara partisipatif melalui diskusi kelompok, studi kasus, latihan lapangan, hingga pemutaran film tematik tentang HAM dan perlawanan warga.

Para peserta yang mengikuti kegiatan terlihat antusias, selain itu mereka berkesempatan untuk berdialog secara langsung dengan korban pelanggaran HAM dan tokoh-tokoh yang selama ini berjuang di lapangan. Selain itu peserta juga ikut secara angsung melaksanakan kegiatan Aksi Kamisan yang rutin dilaksanakan oleh Kontras Sumut dan juga lembaga jaringan lainnya.

Melalui pendekatan tersebut, KontraS Sumut berharap peserta tidak hanya mampu memahami teori, tetapi juga merasakan realitas perjuangan di balik setiap pelanggaran HAM yang terjadi dan memahami praktik yang dapat dilakukan guna mejadi aktor pembela HAM. Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah regenerasi pembela HAM yang diharapkan mampu melanjutkan perjuangan advokasi secara berkelanjutan di masa depan.

“Kami percaya, memperjuangkan HAM bukan hanya tugas segelintir orang. Ini adalah tanggung jawab bersama yang harus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya” tutup Armalia. 

Form Pengaduan Online WhatsApp Kontras Sumut Dukung Kami