Kasus dugaan kekerasan aparat yang dilatarbelakangi motif penghukuman secara sepihak kembali terjadi di Sumatera Utara. Kamis, 1 Juli 2021 KontraS Sumut kembali mendapat laporan dari masyarakat. Rian dan Deva, warga Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan mengaku mendapat praktek kekerasan oleh seorang oknum aparat karena dituduh melakukan pencurian Handphone (HP).

Rian dan Deva, mengaku kepada kontras bahwa HP tersebut mereka temukan di jalan, tepatnya di fly over amplas di akhir bulan ramadhan kemarin. Hal ini dikuatkan juga dengan saksi-saksi, baik tetangga maupun keluarga di rumah.

“Setelah seminggu tidak ada yang mencari, maka kami jual Handphone itu” Ujar Deva

Pada pembeli, Rian dan Deva mengakui bahwa HP tersebut merupakan temuan di jalan. Karena pembeli setuju dan memahami konsekuensinya maka transaksi pun dilakukan dengan nominal Rp 2.200.000.

Lebih sebulan setelah penjualan, tepatnya di tanggal 29 Juni 2021, Rian dihubungi oleh pembeli. Pembeli meminta Rian untuk datang ke sebuah lokasi. Pembeli kembali menanyakan apakah HP ini curian, dan Rian pun menjelaskan bahwa HP itu temuan sebagaimana penjelasan di awal saat penjualan.

Tak lama berselang, seorang oknum polisi datang dan langsung memukuli Rian. Ia kemudian di bawa menuju sebuah tempat fotocopy. Kedua tangan Rian di borgol, dipukuli dan ditendangi.

“Kalo emang aku pencuri, kenapa gak ke kantor polisi dibawa. Malah di pukuli aku depan fotocopy itu dan dipermalukan” Kata Deva

Rian kemudian diminta menghubungi Deva. Karena tidak bisa dihubungi, Deva akhirnya dijemput oleh keluarga si oknum polisi dirumahnya. Sesampainya Deva ke lokasi tersebut, ia juga mendapat perlakuan yang sama. Dipukuli dan dianiaya secara tidak manusiawi.

Setelah peristiwa itu, mereka baru mengetahui bahwa HP tersebut merupakan milik oknum polisi, pelaku pemukulan. Sedangkan untuk urusan dengan pembeli, Rian dan Deva sudah menggembalikan uang transaksi tersebut.

“Ini soal nama baik bang, selain dipukuli sepihak, satu kampung udah menuduh aku sebagai pencuri. Padahal mana mungkin HP curian ku umumkan ke orang-orang, tetangga pun tau nya” ucap Deva

KontraS sendiri bersedia untuk mendampingi kasus ini. Kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan dalam penegakan hukum tentu tak bisa dibiarkan. Apalagi menyasar kepada orang yang tidak melakukan tindak pidana.

“Tadi sore (1 Juli 2021), kita sudah buat laporannya. Baik ke Propam Polda dan juga ke Dirkrimum soal tindak pidananya”. Ujar Ali Isnandar, Staff advokasi KontraS