KontraS Sumatera Utara

logokontrassumut

Seorang warga di Kelurahan Pugarawan, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batubara meninggal akibat disiksa oleh satuan Kepolisian Resor (Polres) Batubara. Korban mengalami tindakan penyiksaan dengan luka lebam bagian kening, dada, leher, mata bagian kanan, pergelangan tangan, dan bekas luka di bagian paha.

Penyiksaan terjadi pada tanggal 18 Mei 2024 sekitar pukul 19.00 WIB. Di sekitar muara Sungai Cempedak. Saat itu korban bersama ketiga temannya berada di atas kapal. Bahwa korban sedang minum tuak bersama ketiga temannya. Lalu datang dua orang satuan Polres Batubara tanpa seragam dinas. Langsung menyerang korban dengan memukul bagian wajah korban.

Akibatnya korban jatuh ke sungai setelah dipukul. Kedua polisi ikut masuk ke sungai. Kembali melakukan pemukulan kepada korban. Pemukulan terjadi kurang lebih dua puluh menit. Kemudian, datang lagi tiga orang satuan Polres Batubara. Salah satu di antaranya meletuskan tembakan ke arah atas sebanyak dua kali.

Korban kemudian diangkat dan dibawa menggunakan mobil. Berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kejadian. Kedua tangan diborgol dan kondisi lemas. Serta luka di beberapa bagian tubuh.

Staf Advokasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumut Ady Kemit menilai bahwa proses penangkapan terhadap korban bertentangan dengan Peraturan Kapolri (Perkap) No.1/2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.

Kendali tangan kosong keras oleh Polres Batubara ini masuk ranah penyiksaan. Korban mengalami cidera fatal.Tindakan kepolisian harusnya hanya menghentikan/melumpuhkan. Bukan menimbulkan kesakitan yang berlebihan.

“Tindakan Polres Batubara jelas penyiksaannya. Selain luka lebam, korban sempat tidak sadarkan diri selama dua hari akibat dari penyiksaan tersebut. Kejang-kejang dan ada gangguan di saraf otak dan pembuluh darahnya. Mana yang disebut melemahakan itu?,”. Ungkap Ady.

Selain itu, Ady melihat ada beberapa fakta yang tidak sesuai disampaikan oleh pihak Polres terkait penangkapan. Pertama, korban melakukan transaksi narkotika di lokasi bersama temannya. Faktanya, saat itu korban yang sedang berada di atas kapal bersama ketiga temannya hanya minum tuak.

Kedua, korban terjun ke sungai untuk melarikan diri. Faktanya, dua satuan Polres Batubara yang datang ke lokasi langsung menyerang korban. Memukul bagian wajah korban hingga jatuh ke sungai. Korban jatuh ke sungai akibat pemukulan. Bukan melarikan diri.

Ketiga, korban terlibat adu duel dengan kepolisian. Faktanya, korban diserang oleh kedua satuan Polres Batubara. Pemukulan berlangsung lebih dari 20 menit. Keempat, Polres Batubara menyatakan korban membuang barang bukti ke sungai. Harusnya polisi tetap bisa menemukan barang bukti tersebut. Mengingat, lokasi berada di muara sungai tempat kapal bersandar. Artinya, arus air tidak deras.

“Tuduhan Polres Batubara bisa saja tidak terbukti. Karena tidak adanya barang bukti yang disebutkan,”. Sebut Ady.

Kepolisian kerap membela dirinya dengan fakta-fakta terbalik. Apalagi satuan mereka jelas melakukan tindak kejahatan. Pemberantasan narkotika ini hanya seperti dalih. Membenarkan tindakan kepolisian.

Ady menambahkan bahwa pembelaan Polres Batubara terhadap satuannya. Ini agar tindakan penyiksaan yang dilakukan satuanya tidak terungkap. Ini di luar upaya melumpuhkan.

Maka dari itu, KontraS Sumut mendesak agar Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara mengambil alih kasus ini. Menyelidiki lebih lanjut satuan Polres Batubara yang terlibat penyiksan saat penangkapan. Satuan yang terlibat yaitu, Ipda Ranto Marbun, Ipda Harry P Putra, Ipda Junaidi, Aiptu Juanda Simanjuntak, dan Aiptu Riduan Rivai ini berdasarkan surat penangkapan No. SP-Kap/168/v/2024/Satresnarkoba.

Polda Sumut juga harus memproses penegakan kode etik dan perilaku satuan Polres Batubara yang melakukan tindakan penyiksaan. Karena bertentangan dengan Perkap No.1/2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian. Selain itu, Kapolres Batubara juga harus dicopot. Lalai mengawasi satuannya sesuai standar dan mekanisme yag telah diatur.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *